Bullying merupakan salah satu bentuk kekerasan yang dilakukan oleh satu atau sekelompok orang yang dengan sengaja melakukan tindakan-tindakan yang bersifat negatif secara berulang kali yang tujuannya untuk menyakiti, merendahkan atau menjatuhkan harga diri orang lain. Bullying terjadi karena ada kesenjangan kekuatan antara pelaku dan korbannya. Demikian penjelasan mengenai bullying yang disampaikan oleh salah seorang dosen Psikologi Ubaya dalam salah satu artikel di website Ubaya pada tanggal 3 Juni 2014.

                 Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang melakukan bullying. Salah satunya adalah karena memiliki Salah satunya adalah karena memiliki pengalaman masa lalu yang sama. Selain itu, orang tua juga memegang peranan penting dalam perilaku bullying. Pola asuh orang tua yang otoriter dan sering menggunakan hukuman fisik akan membuat si anak meniru perbuatan tersebut dan mempraktekannya kepada temannya. Sehingga muncullah perilaku bullying.

            Terkait bullying ini, aku mempunyai beberapa pengalaman yang dialami oleh anak-anakku. Hal ini disebabkan oleh didikanku yang cukup keras (walau jauh dari otoriter) dalam hal memberikan target pendidikan kepada anak-anak. Pola asuh yang demikian menyebabkan anak-anakku mengalami bullying dari teman-temannya. Hal ini dikarenakan rendahnya kepercayaan diri mereka akibat dari tingginya tuntutanku akan prestasi mereka.

            Pengalaman bullying di sekolah pertama kali dialami oleh anakku yang kedua pada saat kelas 3 SD. Akibat bullying tersebut dia sampai tidak bisa berjalan selama lebih dari 6 bulan dan meninggalkan pelajaran di sekolah hampir 1 tahun. Beruntung anakku termasuk anak yang berprestasi, jadi walau tidak bisa masuk sekolah dia masih mampu memahami pelajaran dari bukku-buku paket yang dia miliki. Dan pihak sekolahpun bersedia memberikan dispensasi terkait kondisi anakku tersebut.

Pengalaman bullying kedua dialami oleh anak ketigaku. Dia mengalaminya pada saat awal masuk Sekolah Dasar. Memang kesalahanku yang menyekolahkannya terlalu muda yang nota bene secara mental belum matang untuk menerima pelajaran di SD. Saat itu anakku baru berusia 5,5 tahun, masih dibawah standar masuk SD yaitu 6 tahun. Namun dikarenakan ambisiku yang menginginkan anakku segera sekolah, maka sejak usia 2,5 tahun anakku itu sudah masuk sekolah Play Group.

            Saat itu aku masih awam terhadap yang namanya parenting, aku terlalu fokus dalam mengejar karir. Dan salah satu alasan anakku cepat-cepat disekolahkan adalah agar anakku ada yang menjaga selama aku bekerja. Sungguh pemikiran yang picik untuk seorang ibu, namun saat itu keputusan itulah yang ideal menurutku.

            Seandainya saat itu aku mau mempelajari ilmu parenting, tentu aku akan lebih peka terhadap perilaku anak-anak. Sehingga anak keduaku tidak akan mengalami peristiwa yang menyakitkan tersebut. Namun nasi sudah menjadi bubur, aku tidak mau menyesali apa yang sudah terjadi. Sejak peristiwa bullying anak keduaku tersebut, aku sudah bertekad akan mempelajari ilmu parenting dimanapun itu berada.

            Dalam proses menebus kesalahanku kepada anak keduaku, terjadi peristiwa bullying kepada anakku. Lagi-lagi aku membuat kesalahan. Apabila sebelumnya kesalahanku adalah terlalu sibuk bekerja sehingga kurang peduli terhadap pengasuhan anak-anak. Kali ini kesalahanku adalah terlalu fokus belajar ilmu parenting sehingga aku kerap meninggalkan rumah untuk mengejar ilmu tersebut ke berbagai tempat. Alhasil, bukannya anak-anak dididik dan diasuh dengan baik tapi malah mendapatkan pengalaman bullying lagi.

            Saat itu aku terlalu sibuk mengejar ilmu namun lupa mempraktekannya. Dan sejak anak ketigaku menjadi korban bullying juga, aku mulai merasakan ada yang salah dengan diriku. Sampai akhirnya aku memutuskan menemui temanku yang berprofesi sebagai psikolog untuk mencari tahu apa sebenarnya yang salah pada diriku. Namun hasil analisa temanku itu menunjukkan aku baik-baik saja, hanya aku yang terlalu merasa bersalah sehingga berambisi untuk menguasai seluruh ilmu parenting yang ada di dunia ini sehingga melupakan hal yang paling mendasar dari sebuah ilmu. Yaitu mempraktekkan ilmu tersebut.

            Analisa temanku tersebut membuat aku tersentak sadar. Aku bertekad akan memperbaiki semuanya. Temanku tersebut memberikan saran agar aku memperbaiki diri sendiri dulu sebelum memperbaiki pengasuhan kepada anak-anakku. Karena menurutnya sebaik apapun metode pengasuhan yang diterapkan kepada anak-anak tapi apabila sang ibu masih belum beres dengan dirinya sendiri, maka hasil pengasuhannya pun tidak akan baik. Sesungguhnya baik buruknya hasil pengasuhan tergantung kepada sang ibu.

            Memang benar apa yang diajarkan dalam agama Islam. Baik buruk suatu generasi ditentukan oleh kualitas wanitanya. Apabila wanitanya baik maka akan dihasilkan generasi yang baik. Sebaliknya apabila wanitanya tidak baik maka generasi yang dihasilkan akan tidak baik juga. Begitupun yang terjadi dalam sebuah keluarga. Apabila sang ibu baik lahir bathinnya, maka akan dihasilkan anak-anak yang sholeh dan sholehah.

            Merasa tertampar oleh analisa temanku tersebut, aku semakin membulatkan tekad untuk tidak sekedar belajar ilmu parenting dan mempraktekannya, namun juga akan menjadi seorang konsultan parenting. “Tamparan” tersebut membuahkan sebuah tekad yang mulia, dan saat ini aku masih berproses ke arah sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *